
MALANG, JATIMPERS.COM – Bagi seorang atlet, untuk meraih prestasi itu memang tidak mudah. Butuh perjuangan, latihan, dan kerja keras. Bahkan butuh pengorbanan yang tak sedikit. Tidak hanya berkorban waktu, tapi juga tenaga, pikiran, biaya, hingga sekolah. Bahkan masa anak-anak, yang harusnya dinikmati untuk bermain, juga ikut dikorbankan. Dan, tak jarang mendapat tentangan dari dalam keluarga. Ini pula yang dirasakan Ayu Saraswati (15), atlet bulutangkis ganda putri yang sekarang bernaung di bawah bendera Pelatkab PBSI Malang, Jawa Timur.


KEPADA wartawan jatimpers.com, Rabu (29/04/2026) siang, Ayu mengisahkan panjang lebar perjalanannya menggeluti dunia tepok bulu ini. “Saya mulai belajar bulutangkis di PB Istana, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang. Waktu itu, saya masih kelas 1 SD. Usia saya waktu itu sekitar 6 tahun. Mengapa saya suka bulutangkis? Ya, karena asik aja. Ya saya suka aja,” katanya memulai kisahnya.
Hampir setiap hari gadis manis ini menjalani latihan di sebuah balai desa. Jaraknya memang tidak jauh dari rumahnya, yang berada di Dusun Adiluwih, Desa Karangsuko, RT 4/RW 1, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang. “Jarak rumah saya dengan tempat latihan hanya sekitar 5 km. Kalau naik sepeda motor paling hanya 15 menit sudah sampai. Biasanya saya diantar mama atau kadang bareng dengan pelatih,” tuturnya.

Meskipun jarak antara rumah dengan tempat latihan dekat, dan dia punya semangat latihan, namun tidak mudah juga bagi Ayu Saras untuk menjalani latihan tersebut. Karena, anak bungsu dari tiga bersaudara, pasangan Jaka Purnama/Elly Herawati ini, mendapat tentangan dari ayahnya. “Memang benar. Karena ayah lebih suka aku fokus sekolah dari pada ikut bulutangkis,” katanya seraya mengenang masa lalu.
Bahkan, masih kata cewek kelahiran Malang,19 Februari 2011 ini, waktu itu ayahnya hampir saja mematahkan raketnya yang biasa dipakai latihan. “Karena waktu ngaji, aku buru-buru pulang, karena ingin ikut latihan. Lalu ayahku suruh aku balik lagi ke tempat ngaji supaya ikut ngaji malam. Tapi aku ngeyel, ingin ikut latihan bulutangkis. Makanya, waktu itu raketku hampir dipatahin dan aku tak boleh latihan badminton. Ayah bilang, aku boleh latihan badminton kalau rangking 1 di sekolah,” tuturnya.
Namun seiring perjalanan waktu, restu orang tua itu datang juga. Apalagi setelah pelajar MTS Al Munawwaroh, Tajinan, Kabupaten Malang, kelas 9 B, ini sering meraih juara dalam berbagai event bulutangkis. Seperti Kejurkab PBSI Malang meraih juara 1, Madiun Cup meraih juara 3, Forkopimda Malang meraih juara 3, Adiputro Cup juara 1, Jabmilk Cup juara 1, dan beberape event lainnya.

Namun yang cukup spektakuler adalah ketika Ayu Saras meraih juara 3 Kejurprov PBSI Jatim tahun 2025 di GOR Uraha Badminton Hall, Malang. Saat itu, dia turun diganda putri, berpasangan dengan Zidna. Hasil ini pun membanggakan bagi Ayu Saras dan keluarga. Mengapa? “Karena waktu itu, saya dan Zidna masih pemula. Padahal yang dipertandingkan dalam kejurprov itu kategori remaja, taruna, dan dewasa. Oleh pelatih, kami disuruh main dan harus turun di kelas remaja. Otomatis kami harus naik kelas, dari pemula ke remaja,” katanya.
Jadi, mau tidak mau, Ayu/Zidna harus bertarung dengan kakak-kakak tingkatnya yang sudah punya banyak pengalaman di kategori remaja. Namun hal ini tak membuat mental mereka layu. Justru atlet binaan Pelatkab PBSI Malang ini mainnya makin gacor, karena tidak punya beban mental. “Alhamdulillah, kami terus melaju mulai babak penyisihan hingga akhirnya masuk semi final. Bagi saya, ini capaian yang luar biasa di tahun 2025,” tandasnya.
Karena itu, pada 2026 ini, cewek asli Dusun Adiluwih, Desa Karangsuko, RT 4/RW 1, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, ini punya target besar. Salah satunya, ingin mengulang prestasi di tahun 2025. “Setidaknya saya ingin juara kejurprov dan sirnas,” harapnya. (iko/mat)