Site icon JATIMPERS.COM

ChatGPT di Kelas: Menumbuhkan Atau Membunuh Karakter Belajar?

WhatsAppFacebookGmailCopy LinkTwitterShare

*Oleh: Firahil Syaifinnabilah, S.Pd, Guru Bahasa Inggris SD Islam Sabilillah Malang


Di tengah kencangnya perkembangan teknologi masa kini, dunia pendidikan kembali dihadapkan pada perubahan besar. Salah satunya dengan hadirnya ChatGPT. Teknologi buatan ini mulai digunakan di berbagai bidang, termasuk sekolah. Bagi sebagian guru, ChatGPT bagaikan alat penerang di tengah padatnya tugas guru. Namun, bagi sebagian lainnya, kehadirannya justru menimbulkan kekhawatiran baru. Apakah teknologi ini akan membantu pendidikan atau justru melemahkan proses belajar yang sesungguhnya?

 

Firahil Syaifinnabilah
Firahil Syaifinnabilah, S.Pd

SEBAGAI guru bahasa Inggris kelas 5 SD, saya merasa bahwa ChatGPT memberi akses kilat hingga ide-ide super yang bisa diaplikasikan dalam pembelajaran di kelas. Tak hanya itu,  beban administrasi dan persiapan mengajar yang menyita waktu berubah menjadi lebih ringan. Apalagi saat ini kondisi guru yang dituntut kreatif sekaligus administratif. Alat ini terasa seperti jawaban atas berbagai tekanan pekerjaan.

Pendapat ini sejalan dengan pandangan Sal Khan, pendiri Khan Academy, yang menyebut bahwa AI (ChatGPT) sebagai personal tutor yang berpotensi mendukung pembelajaran individual. Menurutnya, teknologi dapat membantu guru memberi perhatian lebih pada kebutuhan siswa, karena sebagian tugas teknis dapat dibantu AI. Pandangan ini menunjukkan bahwa AI (ChatGPT) bukan sekedar tren, tetapi memang sedang diarahkan menjadi bagian dari masa depan pendidikan.

Namun, di balik manfaat tersebut, ada persoalan mendasar yang perlu dikritisi. Pendidikan bukan hanya soal menyampaikan informasi, melainkan proses membangun pemahaman, karakter, dan cara berpikir kritis. Di sinilah kekhawatiran itu muncul. Ketika siswa terbiasa memperoleh jawaban instan dari ChatGPT, mereka bisa kehilangan kesempatan untuk berlatih berpikir, ketelitian, mencoba, hingga kesabaran dalam belajar menemukan informasi. Padahal inti belajar adalah memahami, mencoba, gagal, dan akhirnya tumbuh melalui proses itu sendiri.

Dalam pelajaran bahasa Inggris, saya beberapa kali meminta siswa untuk menulis kalimat sederhana dengan maksud melatih penggunaan kosakata, struktur kalimat, dan keberanian mereka mencoba. Namun beberapa siswa kerap tidak sabar dan memilih diam-diam membuka ChatGPT demi jawaban yang cepat dan tampak bagus namun tidak memahami prosesnya. Di sini saya melihat ancaman terbesar bukan pada ChatGPT itu sendiri, tetapi pada budaya instan yang diperkuat teknologi. Generasi anak saat ini atau kerap kita sebut generasi alpha,  tumbuh di tengah teknologi yang pesat. Mereka akrab dengan kata “instan”, tidak suka menunggu, kurang sabar, dan ceroboh. Sehingga tanpa disadari mereka kehilangan ketekunan dan ketangguhan dalam berproses.

Penggunaan ChatGPT secara berlebihan dapat menggeser makna pendidikan menjadi sekedar menyalin informasi, bukan melatih kemampuan bernalar dan berpikir kritis. Padahal, di tingkat sekolah dasar, anak-anak harusnya belajar membangun dasar cara berpikir, mengasah rasa ingin tahu, serta menikmati proses belajar. Bukan hanya mengejar jawaban instan. Jika ChatGPT digunakan tanpa batas dan tanpa bijak, lalu dimanakah letak makna pendidikan yang sesungguhnya?

Penggunaan ChatGPT harus ditempatkan secara proposional. ChatGPT dapat membantu guru dalam persiapan dan inovasi pembelajaran, tetapi tidak boleh menjadi pusat proses belajar. Guru juga harus merancang aktivitas yang membuat siswa berpikir kritis. Contoh proposional misalnya, ChatGPT membantu teks bacaan, tetapi diskusi, permainan, presentasi, dan praktik berbahasa harus tetap dilakukan secara langsung.

Selain itu, sekolah dan guru perlu mulai mengajarkan etika penggunaan ChatGPT. Anak harus paham bahwa teknologi adalah alat bantu, bukan jalan pintas. Jika mereka bergantung pada ChatGPT, mereka mungkin bisa menyelesaikan tugas lebih cepat, tetapi mereka akan kehilangan kesempatan mengembangkan kemampuan diri. Jika ChatGPT digunakan tanpa membangun literasi digital yang baik, pendidikan dapat bergeser menjadi proses yang dangkal, cepat, tetapi miskin makna. Ini merupakan tanggung jawab bersama antara guru, sekolah, dan orang tua.

Last but not least, masa depan pendidikan tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang digunakan, tetapi oleh bagaimana guru menjaga esensi belajar. Mesin dapat memberi jawaban, tetapi guru yang mengajarkan cara memahami kehidupan. ChatGPT dapat menulis kalimat, tetapi guru yang membentuk karakter dan menumbuhkan ketangguhan. Pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar tentang menghasilkan anak pintar menjawab, melainkan manusia yang berpikir, berproses, dan bertumbuh. (*)

WhatsAppFacebookGmailCopy LinkTwitterShare
Exit mobile version