MALANG, JATIMPERS.COM – Tak banyak yang tahu jika atlet binaan Pelatkab PBSI Malang, Jawa Timur, yang satu ini dulunya adalah seorang penari. Setidaknya dia pernah mengikuti latihan menari di sebuah sanggar tari di dekat rumahnya, Tumpang, Kabupaten Malang. Ya, sekitar kelas 2 SD, Rida Ayudya Wijayanti memang pernah diikutkan latihan menari oleh orang tuanya sebelum akhirnya banting setir ke dunia bulutangkis hingga sekarang.


KEPADA wartawan jatimpers.com, Riadi Pujiono, ayah Rida —demikian sapaan akrab Rida Ayudya Wijayanti— cerita panjang lebar tentang anak perempuannya ini. “Dulu, kalau tak salah saat masih kelas 2 SD, Rida pernah saya ikutkan latihan menari. Tujuannya, agar dia bisa bergaul dengan orang lain, punya banyak teman, dan sebagainya. Karena anak saya ini memang sulit bergaul dengan orang lain. Padahal, kalau sudah kenal baik, dia sangat terbuka dan mudah diajak bergaul,” kata Riadi belum lama ini saat mengunjungi anaknya latihan di GOR Uraha Badminton Hall, Jl. Wijaya Kusuma, Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.
Tapi Rida merasa tak nyaman dan tak bisa mengikuti latihan menari. Lalu, oleh ayahnya, Rida diminta untuk mencari kegiatan lain di luar sekolah. “Akhirnya dia memilih badminton yang digeluti hingga saat ini. Alhamdulillah, kegiatan yang awalnya hanya untuk mencari kesibukan di luar sekolah dan mencari teman, kini malah mendulang prestasi. Saya sungguh tak menyangka dia bisa berprestasi seperti sekarang. Hasil yang ia dapat sekarang ini, jauh diluar prediksi kami. Bahkan prestasinya jauh melampaui batas yang kami bayangkan,” tegas Riadi seraya mengucap syukur atas raihan anak pertamanya ini.
Menimpali keterangan ayahnya, Rida Ayudya Wijayanti, bercerita, dia mengikuti latihan bulutangkis sudah sejak kelas 4 SD di PB Djagung, Kota Malang. Setelah itu dia pindah ke PB AIC Kabupaten Malang. “Kalau latihan saya diantar ayah. Kalau ayah pas kerja, saya diantar ibu. Kebetulan jarak antara rumah dengan PB Djagung juga tak terlalu jauh, hanya 13 Km. Cukup ditempuh dengan sepeda motor selama 30 menit. Demikian pula saat latihan di PB AIC, juga diantar ayah atau ibu. Jaraknya juga tak jauh, hanya 20 Km. Cukup 45 menit kalau naik sepeda motor,” terangnya.

Pelajar kelas 11 D/ SMA Dipenogoro, Tumpang ini mengaku senang badminton karena ikut-ikutan ayahnya yang juga sering latihan badminton. “Saya suka bulutangkis karena saya dulu sering ikut ayah latihan. Lalu coba- coba ikut klub di PB Djagung hingga keterusan sampai sekarang. Alhamdulillah sudah menuai prestasi. Di antaranya, pada Porprov Jatim VIII/2025 lalu, dapat juara 2 untuk beregu putri. Selain itu dapat juara 2 tunggal putri pada kejuaraan Ecomonic UM Cup tahun 2025. Juara 3 ganda taruna putri Kejurprov PBSI Jawa Timur tahun 2025. Juara 2 ganda taruna putri pada kejuaraan Bupati Malang Cup Open Nasional tahun 2025, dan terakhir juara 3 ganda taruna putri Piala Ketua Umum PP PBSI tahun 2026. Semoga tahun ini bisa podium lagi dan bisa main di Sirnas Primer,” harapnya.
Harapan putri pertama pasangan Riadi Pujiono/Rosmiati yang tinggal di Jl. Kemuning, Desa Bokor, Kecamatan Tumpang, RT 15/RW 5, Kabupaten Malang, Jawa Timur ini, bukan tak mungkin akan terwujud. Melihat semangatnya dalam menjalani latihan dan prestasi yang terus meningkat, tentu harapan dan cita-cita atlet binaan Pelatkab PBSI Malang kelahiran Malang, 25 November 2008 ini akan tercapai. Semoga! (bri/mat)