
MALANG, JATIMPERS.COM – Menjadi pelatih bulutangkis di luar negeri? Tentu sebuah cita-cita dan harapan bagi semua para pelatih di tanah air. Karena, selain mendapat pengalaman, juga menjadi portfolio (kumpulan dokumen sebagai pencapaian terbaik seseorang untuk menunjukkan kemampuan, pengalaman, dan kualitas diri di bidang tertentu yang berfungsi sebagai bukti nyata saat melamar kerja). Dan, yang paling penting lagi adalah honornya tentu lebih menjanjikan. Ini pula yang dirasakan Tri Yoga Trengginas (33), pelatih PB Rajawali, Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, saat ditawari menjadi pelatih di Alokaa Sports Academy, Gandhinagar, India, tahun 2018 silam.


MENJADI pelatih di negerinya Shah Rukh Khan (aktor film) ini berawal saat owner Yoga Sport ini bekerja sebagai pengawas di sebuah proyek pembangunan gardu induk di Balikpakan, Kalimantan Timur, tahun 2018. Di tempat kerjanya ini, mantan atlet PB Rajawali, Turen, ini juga aktif latihan bulutangkis bersama rekan-rekan kerjanya. “Dari sering latihan bersama ini, akhirnya ada yang menawari saya menjadi asisten pelatih di India. Tawaran itu saya terima. Karena, selain butuh pengalaman melatih di luar negeri, saya juga butuh suasana kerja yang baru,” katanya, Minggu (26/04/2026) siang di Malang.
Akhirnya, dengan tekad bulat dan restu orang tua, Yoga —demikian panggilan akrab Tri Yoga Trengginas— yang saat itu masih bujangan, terbang ke India. Padahal, Yoga tak punya kemampuan bahasa India sama sekali. Dia hanya bisa bahasa Inggris sekedarnya. Selain itu, alumni SMAN 1 Malang ini pun tak paham secara detail situasi dan kondisi tempat atau klub yang akan dia latih. “Bayangan saya waktu mau berangkat ke India waktu itu adalah tempat saya melatih berada di tengah-tengah kota,” terangnya.
Namun betapa kagetnya alumni D3 Teknik Sipil (lulus 2014) yang alih jenjang D IV Manajemen Rekayasa Konstruksi Politeknik Negeri Malang (lulus 2016) ini ketika sampai di India. Karena letak klub tempatnya melatih masih jauh dari pusat keramaian, beberapa jam perjalanan darat. “Dan, yang lebih seru lagi, lingkungan Alokaa Sports Academy, Gandhinagar, ini berada di lingkungan pedesaan yang sepi. “Bahkan, tak jarang, saat berangkat atau pulang melatih, kami berpapasan dengan babi hutan,” ujarnya.

Meski letaknya jauh dari keramaian, namun Yoga tetap menjalani profesinya sebagai pelatih. Bahkan, di tempat ini dia mendapat ilmu baru yang belum ia dapat selama menjadi atlet di Indonesia. “Salah satu ilmu yang saya dapat adalah soal kesungguhan dan semangat atlet. Di klub yang saya latih itu, para atlet benar-benar menghargai waktu. Disiplinnya tinggi dan mereka sungguh-sungguh berlatih. Mereka biasa datang ke tempat latihan sekitar satu jam sebelum latihan. Setelah sampai di GOR, tanpa disuruh mereka langsung pemanasan, sehingga saat program masuk, mereka sudah siap. Selain itu dukungan wali atlet juga luar biasa,” jelasnya.
Tak jarang, para orang tua mengantar anak-anaknya latihan sekitar pukul 04.00, karena latihan dimulai pukul 05.00. Dan, mereka tidak langsung diantar ke GOR. Namun, dengan bantuan cahaya lampu mobil, anak-anak harus lari dulu dari satu titik penurunan menuju ke GOR. “Ini menunjukkan bahwa dukungan orang tua dan kesungguhan para atlet, benar-benar luar biasa dan patut dicontoh,” tegasnya.
Tidak hanya itu. Selalu ada komunikasi yang nyaman antara pelatih, atlet, dan orang tua untuk kebaikan atlet. Namun para orang tua tidak pernah intervensi terhadap program-program yang dijalankan para pelatih. “Ini yang membuat kami, para pelatih di sana nyaman,” katanya. Bagaimana dengan honor? “Sangat menjanjikan. Tahun 2018 itu sekitar Rp 10 juta per bulan,” jawab Yoga tersenyum. (bri/mat)

