
Dari hasil pantauan wartawan Tabloid Jawa Timur.com beberapa waktu lalu, kondisi jalan bergelombang, berlubang, dan aspal mengelupas. Semua jenis kendaraan, baik roda dua, roda empat maupun lebih, harus jalan ekstra hati-hati. Tidak bisa melaju dengan kecepatan tinggi, seperti ketika jalan masih mulus.
Bahkan, para sopir harus pintar-pintar mencari jalan yang agak baik agar bisa berjalan dengan nyaman. Karena itu, tak heran bila banyak kendaraan berjalan zik zak, berbelok-belok, menukik ke kanan ke kiri, hanya untuk menghindari jeglongan. “Habis mau bagaimana lagi? Tidak ada jalan yang bisa dipilih. Belok sana jeglong, belok sini juga jeglong,” kata Suradi, sopir minibus asal Malang yang kebetulan ke Nganjuk.

Kondisi jalan yang rusak parah ini terus merayap hingga pintu masuk Desa Melorah, Kecamatan Rejoso. Praktis, selama perjalanan, masyarakat dapat menikmati wisata jeglongan di dalam mobil bergoyang. Setelah melewati jembatan Ngrandu —masuk Melorah— barulah jalan mulai membaik, karena jalan sudah dicor beton.
Lalu, sejak kapan kondisi jalan ini rusak parah? “Sudah bertahun-tahun. Sebelum ada proyek jalan tol, jalan ini sudah sering rusak namun jarang diperbaiki,” kata Supri, warga Rejoso yang setiap hari melintasi jalan tersebut.
Kondisinya makin parah tatkala ada proyek pembangunan jalan tol, sekitar 2 – 3 tahun lalu. Kebetulan proyek jalan tol ini melintas di tengah jalan raya tersebut. Setiap hari banyak truk yang lalulalang, membawa material bermuatan sangat banyak. Sehingga, lama-lama jalanan pun menjadi rusak. (*)

